matanya merekah, berpijar, dan melembut pada saat yang sama. senyumnya menghias kanvas jiwa di kedalaman kalbu, tak dapat terlupa. gemulai langkahnya padukan tarian dengan derapan menjadi melodi yang selalu mengalun di hati. bibirnya yang merah meronakan nuansa tunggalnya yang takkan mati bila tersentuh.
wanita itu begitu indah. begitu nyata dalam ketakjuban. begitu kekal dalam kefanaan. begitu sempurna dalam segala ketidaksempurnaan. jiwanya selalu menari mencari kebebasan, dan akan melahirkan sesosok mahakarya sempurna bagi kehidupan. ialah sang nyawa, ialah wajah terpurna.
mencintainya seperti mencintai alunan angin yang bernyanyi di pagi hari dengan iringan desir daun yang menari. mencintainya seperti keheningan aliran air di jemari-jemari sungai yang panjang. mencintainya seperti merenangi kedalaman samudra tanpa bantuan udara. mencintainya…persis seperti menatap bukit di seberang lautan dengan buratan senja yang memerah.
jika kesejatian cinta terukur oleh bejana hampa udara dengan timbangan seisi alam semesta, maka sejatinya tidak akan mungkin tergenggam dan terpeluk di dada. ia hanya bisa tergenggam dalam ingatan, dan kupeluk dalam hati. merasai tanpa bisa memiliki. mencintai dan hanya terus meresapi. terus.. terus.. dan terus.. lagi.. lagi.. dan lagi..
karena wanita itu bernama bulan semu. karena wanita itu inspirasi bagi semua lukisan yang tertoreh di jiwaku.
bilakah kelak ia temukan mentarinya?
Posted in suara jiwa | No Comments »